Etika Politik, Tata Negara, Filsafat Ekonomi ala Tom Lembong | Endgame #248
Gita Wirjawan
Pentingnya membudayakan ambisi, imajinasi, dan kehokian untuk membangun generasi penerus yang lebih baik.
Executive Summary
Dalam video ini, Gita Wirjawan berbincang dengan Tom Lembong tentang perjalanan hidupnya yang kaya akan pengalaman pendidikan dan intelektual. Mereka membahas pentingnya ambisi, imajinasi, dan hoki dalam mencapai kesuksesan, serta peran orang tua dalam membentuk karakter anak. Tom juga menyoroti tantangan dalam sistem pendidikan dan pemerintahan Indonesia, serta perlunya investasi dalam infrastruktur pendidikan dan peningkatan kualitas guru untuk membangun bangsa yang lebih baik.
Key Takeaways
- Tingkatkan pendidikan anak dengan menciptakan lingkungan intelektual di rumah, seperti mendiskusikan buku dan ide-ide baru secara rutin.
- Fokus pada pengembangan imajinasi anak dengan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan kreatif seperti seni, teater, atau menulis.
- Ajarkan anak untuk memiliki ambisi positif dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana kerja keras dan ketekunan dapat membawa kesuksesan.
- Dorong anak untuk membaca berbagai jenis buku dan artikel untuk memperluas wawasan dan pengetahuan mereka tentang dunia.
- Buatlah kebiasaan untuk mendiskusikan isu-isu sosial dan politik di rumah agar anak-anak terbiasa berpikir kritis dan memahami tanggung jawab mereka sebagai warga negara.
- Libatkan diri dalam kegiatan masyarakat lokal untuk membangun empati dan kesadaran sosial, seperti bergabung dengan kelompok relawan atau program kebersihan lingkungan.
Key Insights
- Pendidikan yang baik dan lingkungan intelektual dalam keluarga dapat membentuk karakter dan ambisi anak, seperti yang dialami Tom Lembong dari pengaruh ayahnya yang sangat berpendidikan.
- Ambisi dan imajinasi adalah kunci untuk menciptakan kebijakan yang inovatif. Banyak pembuat kebijakan di dunia, termasuk Indonesia, kurang memiliki imajinasi dalam merumuskan solusi untuk masalah yang ada.
- Keterbukaan terhadap ide-ide baru dan kerendahan hati dapat memaksimalkan peluang keberuntungan. Seringkali, solusi terbaik datang dari luar ekspektasi kita, bahkan dari lawan atau musuh.
- Perubahan budaya melalui media sosial dan podcast dapat mempercepat transformasi masyarakat. Generasi muda semakin mencari konten yang edukatif dan substansial, bukan hanya hiburan semata.
- Investasi dalam pendidikan dan kualitas guru adalah kunci untuk membangun bangsa. Tanpa peningkatan kualitas pendidikan, sulit untuk menciptakan pemimpin yang kompeten dan berintegritas di masa depan.
Summary Points
- Tom Lembong berbagi pengalaman pendidikan dan pengaruh keluarga dalam membentuk karier intelektualnya.
- Pentingnya ambisi dan imajinasi dalam mencapai kesuksesan serta peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai tersebut.
- Diskusi tentang peran guru dan pendidikan dalam membangun kualitas pemimpin masa depan di Indonesia.
- Perbandingan antara sistem pemerintahan Tiongkok dan Indonesia dalam hal desentralisasi dan akuntabilitas.
- Pentingnya mengubah kultur dan mental masyarakat untuk mencapai perubahan politik dan ekonomi yang positif.
Detailed Summary
- Gita Wirjawan mengundang Tom Lembong untuk membahas latar belakang pendidikan dan pengaruh keluarga terhadap perkembangan intelektualnya. Tom menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang dokter dengan pendidikan tinggi yang memindahkan keluarga ke Jerman saat dia berusia 3 tahun.
- Tom menjelaskan pengalaman belajar di Jerman dan kesulitan awalnya dalam berbahasa Indonesia setelah kembali ke Indonesia. Ia menekankan pentingnya lingkungan keluarga yang intelektual dalam membentuk kebiasaan membaca dan belajar.
- Tom membagikan pengalamannya diterima di Harvard, menjelaskan strategi yang digunakan, termasuk masuk ke sekolah persiapan yang dikenal baik. Ia menekankan bahwa pendidikan yang baik sangat penting untuk mencapai cita-cita.
- Diskusi berlanjut ke topik ambisi dan imajinasi, di mana Tom menyoroti peran orang tua dalam membentuk karakter anak. Ia membedakan antara ambisi yang positif dan negatif serta pentingnya imajinasi dalam kebijakan publik.
- Tom dan Gita membahas pentingnya pendidikan dan kualitas guru di Indonesia. Mereka sepakat bahwa investasi dalam pendidikan, terutama dalam meningkatkan gaji dan pelatihan guru, sangat krusial untuk kemajuan bangsa.
- Mereka juga membahas peran masyarakat sipil dalam membangun budaya baru yang mendorong ambisi dan imajinasi, serta pentingnya konten edukatif di media sosial untuk generasi muda.
- Tom berbagi pandangannya tentang pentingnya desentralisasi dalam pemerintahan dan bagaimana Tiongkok berhasil dengan sistem desentralisasi yang efektif, sementara Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal ini.
- Di akhir, Tom menekankan pentingnya spiritualitas dan kerendahan hati dalam menghadapi tantangan hidup, serta bagaimana pengalaman pribadi di penjara membawanya pada pemahaman yang lebih dalam tentang keadilan dan keberuntungan.
Siapa yang menjadi tamu dalam video ini?
Apa yang menjadi fokus utama pembicaraan antara Gita dan Tom?
Apa yang menjadi 'hack' untuk masuk ke universitas ternama seperti Harvard menurut Tom?
Apa yang Tom sebut sebagai atribut penting untuk sukses?
Bagaimana pandangan Tom mengenai peran orang tua dalam membentuk ambisi anak?
Apa yang menjadi tantangan utama dalam pendidikan di Indonesia menurut Gita dan Tom?
Apa yang Tom sebut sebagai pentingnya dalam membangun bangsa?
Mengapa Tom percaya bahwa pendidikan harus menjadi prioritas dalam anggaran negara?
Apa yang Tom katakan tentang peran media sosial dalam perubahan kultur?
Apa yang menjadi kesimpulan Tom tentang keberuntungan dalam hidup?
Apa yang Tom sebut sebagai pentingnya akuntabilitas dalam pemerintahan?
Siapa Tom Lembong dan latar belakang pendidikannya?
Tom Lembong adalah seorang intelektual yang berpendidikan tinggi. Ia diterima di Harvard untuk S1 pada tahun 1990 setelah menempuh pendidikan di Jerman dan Deerfield Academy, sebuah sekolah persiapan terkenal.
Apa yang dimaksud dengan 'hack' untuk masuk ke universitas bergengsi?
Hack yang dimaksud adalah masuk ke sekolah-sekolah persiapan seperti New England Prep Schools, yang memiliki kurikulum dan ekstrakurikuler yang dioptimalkan untuk mempersiapkan siswa masuk ke universitas bergengsi seperti Harvard.
Apa peran orang tua dalam membentuk ambisi dan imajinasi anak?
Orang tua, terutama ayah Tom, berperan besar dalam menanamkan ambisi dan imajinasi. Ayahnya sangat ambisius dan mendorong anak-anaknya untuk mencapai pendidikan tinggi, sedangkan ibunya berfokus pada aspek emosional dan moral.
Mengapa pendidikan guru penting untuk kemajuan bangsa?
Pendidikan guru sangat penting karena kualitas pendidikan yang baik bergantung pada kemampuan guru. Investasi dalam pendidikan guru akan meningkatkan kualitas pengajaran dan, pada gilirannya, kualitas generasi penerus.
Apa yang menjadi tantangan dalam sistem pendidikan di Indonesia?
Tantangan utama adalah kurangnya investasi dalam pendidikan guru dan infrastruktur pendidikan. Gaji guru yang rendah dan kurangnya pelatihan membuat kualitas pendidikan sulit untuk ditingkatkan.
Apa yang dimaksud dengan 'saleh sosial'?
Saleh sosial adalah sikap empati dan kepedulian terhadap sesama, lebih penting daripada hanya menjalankan ritual keagamaan. Ini mencerminkan bagaimana seseorang berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Apa yang menjadi kunci untuk membudayakan ambisi dan imajinasi di kalangan generasi muda?
Kunci untuk membudayakan ambisi dan imajinasi adalah melalui pendidikan yang baik, pengaruh positif dari orang tua, dan lingkungan yang mendukung kreativitas serta inovasi.
Apa yang menjadi perbedaan antara pendidikan di Tiongkok dan Indonesia?
Tiongkok berinvestasi besar dalam pendidikan dan infrastruktur, sedangkan Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal kualitas pendidikan dan aksesibilitas, dengan banyak guru yang tidak mendapatkan pelatihan yang memadai.
Apa yang dimaksud dengan 'smart luck' dalam konteks keberhasilan?
Smart luck adalah kemampuan untuk mengenali dan memanfaatkan peluang yang muncul secara tidak terduga. Ini melibatkan kerendahan hati dan keterbukaan untuk menerima solusi dari sumber yang tidak terduga.
Mengapa penting untuk memiliki akuntabilitas dalam pemerintahan?
Akuntabilitas penting untuk memastikan bahwa pejabat publik bertanggung jawab atas tindakan mereka. Ini menciptakan kepercayaan masyarakat dan mencegah korupsi serta penyalahgunaan kekuasaan.
Apa yang menjadi tantangan dalam menarik investasi asing di Indonesia?
Tantangan utama adalah penegakan hukum yang lemah dan ketidakpastian dalam sistem perizinan. Investor membutuhkan kepastian dan transparansi untuk berinvestasi di suatu negara.
Bagaimana cara meningkatkan kualitas guru di Indonesia?
Meningkatkan kualitas guru dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan yang memadai, meningkatkan gaji, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, sehingga guru dapat mengajar dengan lebih baik.
Apa yang menjadi peran media sosial dalam pendidikan saat ini?
Media sosial berperan penting dalam mendemokratisasi akses informasi dan pendidikan. Ini memungkinkan individu untuk belajar secara mandiri dan mengakses konten edukatif yang bermanfaat.
Study Notes
Gita Wirjawan memperkenalkan Tom Lembong dan mengungkapkan rasa terima kasih atas kehadirannya. Tom menjelaskan latar belakang keluarganya yang sangat intelektual, dengan ayahnya seorang dokter yang memiliki banyak spesialisasi. Keluarga mereka pindah ke Jerman ketika Tom berusia 3 tahun, di mana ia menghabiskan masa kecilnya hingga usia 10 tahun. Di Jerman, ia belajar dalam lingkungan yang sangat mendukung pendidikan, yang membentuk karakternya sebagai seorang intelektual. Hal ini menjadi dasar bagi perjalanan pendidikannya selanjutnya.
Tom Lembong menceritakan bagaimana ia diterima di Harvard University pada tahun 1990. Ia menjelaskan bahwa masuk ke Harvard pada tahun 90-an jauh lebih sulit dibandingkan sekarang. Tom mengungkapkan bahwa kakaknya yang lebih tua memberikan inspirasi dan informasi mengenai sekolah-sekolah persiapan yang terkenal di Amerika. Dia juga menjelaskan pentingnya memilih sekolah persiapan yang tepat untuk meningkatkan peluang diterima di universitas terkemuka seperti Harvard.
Tom menjelaskan pengalamannya di Deerfield Academy, sebuah sekolah persiapan di Amerika. Di sana, ia mengalami pendidikan yang sangat berbeda, termasuk harus mengulang kelas 3 SMP untuk mengikuti kurikulum yang lebih ketat. Sekolah ini juga mulai menerima siswa perempuan pada tahun terakhirnya, yang memberikan pengalaman baru dan penting dalam pembentukan karakternya. Tom menekankan bahwa tahun-tahun di sekolah ini sangat formatif dan berkontribusi besar terhadap kesuksesannya di Harvard.
Dalam diskusi, Tom berbicara tentang peran orang tuanya, terutama ayahnya, dalam menanamkan ambisi dan imajinasi. Ia mencatat bahwa ayahnya sangat ambisius dan memiliki harapan tinggi untuk anak-anaknya. Namun, ia juga mengakui bahwa ada sisi negatif dari ambisi tersebut, yaitu sikap arogan. Tom menekankan pentingnya keseimbangan antara ambisi dan nilai-nilai kemanusiaan, serta bagaimana orang tua seharusnya mendukung anak-anak mereka tanpa memberikan tekanan berlebihan.
Tom mengungkapkan bahwa salah satu masalah utama dalam pemerintahan adalah kurangnya imajinasi di kalangan pembuat kebijakan. Ia berpendapat bahwa untuk menciptakan kebijakan yang efektif, dibutuhkan visi yang menarik dan cara komunikasi yang inovatif. Tom menekankan bahwa imajinasi harus menjadi bagian integral dari proses pembuatan kebijakan, baik dalam bisnis maupun pemerintahan, untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Tom berbagi pengalaman spiritualnya selama 9 bulan di penjara, di mana ia banyak merenung dan membaca buku-buku spiritual. Ia menyatakan bahwa banyak peristiwa dalam hidupnya yang tidak bisa dijelaskan selain sebagai rencana Tuhan. Pengalaman ini membawanya untuk lebih mendalami sisi spiritual dan memahami pentingnya tawakal, yaitu berusaha sebaik mungkin namun tetap pasrah kepada kehendak Tuhan. Ini menjadi refleksi penting dalam hidupnya dan cara pandangnya terhadap keberuntungan.
Dalam diskusi, Tom menyoroti pentingnya masyarakat sipil dalam membangun budaya baru yang lebih baik. Ia mencatat bahwa kelompok-kelompok kerelawanan lokal memiliki peran besar dalam mendorong kebersihan publik dan kesehatan masyarakat. Tom percaya bahwa perubahan budaya harus dimulai dari masyarakat sipil, dan bahwa influencer serta podcaster memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan nilai-nilai positif dan substansi yang bermanfaat.
Tom menekankan pentingnya investasi dalam pendidikan, terutama dalam meningkatkan kualitas guru. Ia mencatat bahwa anggaran pendidikan seharusnya lebih banyak dialokasikan untuk gaji guru dan pelatihan, bukan hanya untuk infrastruktur fisik. Tanpa guru yang berkualitas, sulit untuk mencapai kemajuan dalam pendidikan. Ia juga mengkritik kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru dan pentingnya reformasi dalam sistem pendidikan.
Dalam diskusi tentang desentralisasi, Tom menjelaskan bahwa banyak daerah di Indonesia tidak memiliki arahan yang jelas dari pemerintah pusat. Ia berpendapat bahwa desentralisasi harus diimbangi dengan akuntabilitas dan transparansi untuk memastikan bahwa pimpinan daerah dapat mengambil keputusan yang tepat. Tom menekankan pentingnya pendidikan dan pelatihan bagi pemimpin daerah untuk meningkatkan kualitas pemerintahan.
Key Terms & Definitions
Transcript
GITA WIRJAWAN: Halo, teman-teman, hari ini saya kedatangan teman dekat saya, Tom Lembong. Tom, makasih banget. THOMAS LEMBONG: Gita, makasih banyak undangannya. - Gua pengin gali lebih dalam mengenai waktu lu kecil. Lu tuh sangat berpendidikan dan lu gimana bisa dapat pendidikan yang luar biasa itu pasti berkorelasi dengan ajaran atau lingkungan yang ada di keluarga dan sekitarnya. Cerita deh. - Oke. Jadi memang papa saya tuh intelektual banget; sangat-sangat intelektual, boleh dibilang arogan. Dia memang hanya mengutamakan intelek. Itu saja. Dia dokter sampai ambil tiga spesialisasi: internis, THT, jantung, plus S3 di radiologi, di Fakultas Kedokteran UI, kemudian dengan satu atau lain alasan waktu saya usia 3 tahun dia memutuskan untuk pindahin seluruh keluarganya ke Jerman. - Kenapa Jerman? - Karena waktu itu banyak orang Indonesia mulai beralih dari kuliah di Belanda, mulai beralih ke kuliah ke Jerman termasuk tentunya almarhum Presiden Habibie. Dia jauh lebih ke Jerman daripada ke Belanda, kan, padahal sebelumnya karena sejarah kolonial kita mungkin banyak kuliah ke Belanda, tapi di tahun 70-an sudah pada mulai geser ke Jerman, dan dua dari tiga spesialisasi papa saya tadi, plus S3-nya itu di Jerman. Jadi usia 3 tahun sampai 10 tahun saya di Jerman. TK, SD, sekolah Jerman, jadi bicaranya bahasa Jerman, bahkan waktu usia 10 tahun balik ke Indonesia untuk SD kelas 4 sampai SMP kelas 3, awal-awalnya saya enggak bisa bahasa Indonesia sama sekali. Hampir enggak naik kelas tuh waktu SD kelas 4 di Regina Pacis dan di Palmerah di Jakarta. Tapi dari awal memang suasana dalam keluarga tuh intelektual banget gara-gara ayah saya. - Sori, ibu? - Ibu rumah tangga, ketemu ayah saya di UI. Bapak saya di fakultas kedokteran, ibu saya di Fakultas Sastra. Dia konser pianis, dan waktu itu ambil sastra Prancis. Jadi memang rumah tangga yang sangat intelektual. Dan ini mungkin bawaan, saya tuh kalau baca tuh cepat banget, speed reader. Saya tuh bisa nelan buku dalam sehari-dua hari kalau ada obsesi. Kayaknya juga menurun ke anak saya yang cewek, Thalia, juga speed reader banget. Itu genetik, tapi memang lingkungan keluarga dari usia dini sudah sangat intelektual. - Terus lu tuh diterima di Harvard untuk S1. Itu enggak gampang loh, Tom. Tahun berapa? 90-an ya? - Masuk tahun 1990, lulus tahun 94. - Itu cita-cita lu dan upaya lu gimana tuh? Sekarang sih udah jauh lebih banyak yang masuk, tapi gua ngebayang di tahun 90 itu jauh lebih sulit. - Pertama, ada hack-nya. Ada hack-nya. - Ini contekan yang bisa dicatat oleh teman-teman. Gimana? - Jadi, kakak saya itu 6 tahun di atas saya, dan dia yang duluan ke Amerika untuk kuliah. Dia dari Kanisius ke sebuah sekolah kecil di Brunswick, Maine, Bowdoin College, liberal arts school kecil, seperti yang kamu tahu. Terus beberapa teman sekelas dia kok enteng banget kuliahnya, terus kakak saya tanya, "Kok buat kalian tuh semuanya serba gampang, semua kayak enteng banget." "Oh ya, kami SMA-nya di sekolah namanya Prep School." Dan mungkin paling terkenal, The New England Prep Schools, sekolah-sekolah yang sudah berdiri dari tahun 1700-an 1800-an, sekolah-sekolah yang sangat mapan, yang paling terkenal tentunya Phillips Andover, Phillips Exeter, St. Paul's Dan hampir boleh dibilang itu sekolah-sekolah yang hampir seperti "feeder school" Jadi, orang kalau niat banget untuk masuk ke Harvard, Princeton, Yale, Stanford, hack-nya adalah masuk dulu ke sekolah-sekolah seperti itu, dan itu kurikulumnya dan semuanya, sampai ekstrakurikulernya juga dioptimalkan untuk bisa masuk ke sekolah-sekolah itu. Jadi, saya masuk ke sekolah namanya Deerfield Academy dan jauh lebih gampang untuk masuk ke sekolah ngetop kayak Harvard dari New England Prep School daripada misalnya dari Kanisius atau dari Regina Pacis. Saya ngulang SMP kelas 3 karena program di Deerfield dan kebanyakan prep school itu 4 tahun freshman year, sophomore year, junior year, senior year. Orang tua saya mutusin sudahlah ngulang aja SMP kelas 3. Jadi saya kelas 9 sampai kelas 12 itu sekolah asrama, kayak pesantrennya Amerika. - Cowok semua atau campur? - Lucu, waktu saya masuk awalnya cowok semua, di tengah-tengah perjalanan Trustee dan pimpinan sekolah memutuskan untuk terima perempuan. Jadi, tahun terakhir saya itu tahun pertama Deerfield Academy dalam sejarahnya mulai terima siswa perempuan. Sekarang sepenuhnya campur. Itu punya peranan sangat besar dalam pembentukan saya sebagai intelektual itu kan tahun-tahun yang sangat formatif dan bagaimana saya bisa masuk ke Harvard itu triknya waktu itu. - Lu diterima di sekolah-sekolah lain juga? - Saya diterima di Yale, terus ada satu-dua sekolah lagi kayak Oberlin. - Oh, keren banget tuh. Apalagi untuk musik liberal arts. - Tapi saya enggak diterima di sekolah yang small liberal arts college. kayak Amherst, Williams, - Yang bener? - Iya. Enggak tahu mungkin mereka memang lihat tipe saya harus dalam sebuah universitas yang besar di tengah-tengah kota, enggak bisa small liberal arts college, universitas kecil di pedesaan gitu. - Wow! Lu ngambil arsitektur itu udah memutuskan sebelumnya atau pas lu masuk "Ah, kayaknya gua cocok ke sini, nih." - Itu arahan dari ayah saya ya, karena di SMP pun saya suka banget gambar. Dan dulu saya suka gambar tiga dimensi. Saya juga waktu itu penggemar komik banget, Superman, Batman... - Lebih DC comics atau Marvel? - Semuanya, Marvel, DC, bahkan komik Mickey Mouse dan Donald Duck. Terus juga sci-fi, dan suka gambar; terus ayah saya pikir saya mungkin cocok jadi arsitek. Jadi memang dari awal tujuannya ke sana, tapi seperti kita tahu, dalam perjalanannya akhirnya belok ke Wall Street, ke sektor keuangan, tapi keterampilan bikin diagram masih berguna untuk bikin diagram-diagram keuangannya, PowerPoint, dan diagram struktur keuangan dan sebagainya, membuat struktur. - Lu terpanggil ke Wall Street karena kompensasi atau karena emang lu pengin di dunia keuangan waktu itu? - Jadi, beberapa hal, ya. Pertama, kayaknya dari usia muda udah tertarik ke Wall Street. Saya mulai langganan koran Wall Street Journal waktu masih di Deerfield, waktu masih SMA, mungkin kelas 2 atau 3. - Rocky itu umur 14 tahun udah baca International Herald Tribune. - Gua baca Kuncung waktu itu, sama Godam sama Gundala. - Terus ini mungkin takdir dan tangan Tuhan lagi, Git. Deerfield, sekolah saya itu punya perpustakaan yang gede banget, kita selalu belajar di perpustakaan sekolah. Terus suatu kali saya lagi iseng lihat-lihat ada satu rak itu semuanya buku-buku mengenai sejarah Wall Street, dari sejarahnya Junius Spencer Morgan dan anaknya John Pierpont Morgan, dan anaknya lagi, J.P. Morgan Jr. yang bikin Morgan Stanley, dan sebagainya. Terus keluarga Warburg yang waktu itu bikin S.G. Warburg, dan saya terkagum-kagum, saya begitu terpesona. Jadi Gita kan tahu di tahun 1800-an, apalagi menjelang akhir 1880 1890 masih belum ada bank sentral, mereka masih belum punya bank sentral, tapi sudah ada perbankan, sudah ada pasar modal, tapi tidak ada otorita yang bertindak sebagai penyelamat dalam sebuah krisis. Akhirnya yang saat itu bertindak sebagai penyelamat itu JP Morgan. - Betul. - Dia yang punya modal atau dia yang bisa ngumpulin semua bankir untuk meredam panik di pasar modal. Tapi dengan terus berkembangnya perbankan, di tahun 1910-an 1920-an, saya lupa persisnya tahunnya... - 1914. - Federal Reserve Act, mereka mendirikan bank sentral yang beneran, dan mengambil alih fungsi sebagai penyelamat dalam sebuah krisis. Tapi saya tuh tertarik banget dengan peran JP Morgan waktu itu sebelum adanya bank sentral dan bagaimana dia berpengaruh kepada pasar modal. - Gua tuh selalu ngomong ke anak-anak muda bahwa kalau mereka mau sukses mereka harus punya tiga atribut. Yang pertama adalah ambisi, yang kedua imajinasi, yang ketiga hoki. - Banget banget. Ini kita emang satu frekuensi banget ya, Git, dari dulu. - Tapi gua mau ngomong ambisi sama imajinasi dulu. - Siap. - Nah, sejauh mana peran orang tua lu untuk menyuntik ambisi dan imajinasi? - Gede banget. Kalau imajinasi entahlah, tapi kalau ambisi jelas, ya. Ayah saya dari dulu ambisius banget untuk kakak saya dan saya. Waktu di tahun 1990 secara serentak kakak saya diterima di Harvard Business School, MBA program dan saya diterima di Harvard Radcliffe College, Harvard University Undergrad, itu udah kayak surga buat ayah saya, bisa bayangin kan bangganya kayak apa? Tapi sekali lagi harus saya tegaskan satu aspek negatif, dia jadi sangat arogan. Memang dari dulu sudah arogan. Pikir dia paling pintar—tanpa mengurangi rasa cinta kasih dan hormat kepada ayah saya sendiri, saya bukannya bermaksud mencela ayah saya sendiri, tapi kita ngomong apa adanya karena saya juga sempat kayak gitu. Saya juga sempat sangat arogan, sangat sombong, sangat sok tahu. mungkin kamu ingat gimana waktu kita masih muda. Kalau mau nanti kita bisa ngomong lagi, ya, tapi sekarang saya baru sadar bahwa otak itu bagian terkecil dari kita, yang namanya hati itu jauh lebih besar, dan yang namanya jiwa itu raksasa. Tapi kita sudah meninggalkan jiwa. Pasar ultra kapitalis membuat kita menjual jiwa kita. Kita meninggalkan jiwa, kita sering mengabaikan suara hati, dan kita bersaing hanya pakai otak, kan? Tapi ambisi itu penting, perlu banget. Saya baru tahu berapa tahun lalu, bahwa dalam bahasa Indonesia kata ambisi itu punya konotasi negatif, padahal di bahasa Inggris itu sesuatu yang sangat-sangat positif. Jadi memang butuh banget ambisi—moga-moga kita bisa mengubah konotasi dari kata ambisi dalam bahasa Indonesia menjadi sesuatu yang dimengerti sebagai sesuatu yang positif dan penting dan perlu. Kedua, imajinasi. Sering banget saya bilang, salah satu masalah utama pemerintahan bukan hanya di kita, tapi di banyak negara —mungkin di kebanyakan negara itu kurangnya imajinasi. Pembuat kebijakan kita itu enggak punya imajinasi; perumusan kebijakan atau konsep. Itu lagi, itu lagi. Itu lagi, itu lagi. Entah dalam bisnis atau perumusan kebijakan perpolitikan memang harus ada imajinasi di berbagai dimensi baik dalam membangun sebuah visi yang benar-benar menarik, terus kedua juga dalam gaya berkomunikasi harus ada imajinasi, itu penting banget. - Ibu lu berperan enggak untuk nyuntik imajinasi dan ambisi? atau lebih ke kehokian? - Nah, menarik. Menurut saya peran besar ibu saya itu di hati. Mungkin kalau bukan berkat mama, ibu saya, mungkin saya enggak akan punya hati, sepenuhnya fokus obsesi dengan otak, IQ, akademis, IPK, GPA, sekolah-sekolah yang paling bergengsi; yang kita kenal sebagai credentialism, ngejar diploma atau sertifikasi yang bergengsi tanpa memikirkan suara hati, suara nurani, dan itu rasanya peran ibu dalam keluarga saya. - Lu sekarang sudah punya anak, keluarga, apa yang lu lakukan yang beda dengan apa yang orang tua lu lakukan terhadap lu? - Pertama, Ciska dan saya tuh sangat-sangat tidak tiger mom, tiger dad, kita sangat-sangat tidak ambisius dengan cara ayah saya. Jadi, enggak ada tekanan atau arahan sama sekali bahwa Thalia dan Max harus ke Harvard ataupun sekolah-sekolah bergengsi lainnya. Dari beberapa pilihan, termasuk beberapa yang mungkin di persepsikan bergengsi. Thalia malah milih sebuah sekolah publik di London, namanya London Metropolitan University, yang rasio penerimaan siswanya mungkin 80%. - Wow. - Tapi dia begitu senang, dia sangat-sangat bahagia di situ, sangat sukses. Bidang kuliahnya adalah performing arts. Dia mau berkarir di performing arts, di teater. - Lebih di panggung atau di belakang panggung? - Di belakang panggung, lebih di produksi, stage craft, dan teknik produksi. Max baru mulai kuliah di UC San Diego. - Wah, keren. - Dan dia mau ambil bidang perekonomian dan matematika. - Ngikutin bokap. - Tapi lagi-lagi, enggak ada tekanan atau arahan sama sekali, dan kelihatan banget dua-duanya beda sekali dengan saya, beda sekali dengan Ciska. Memang ada bawaan-bawaan, kita bisa melihat beberapa karakteristik yang wah ini kayak saya banget. Thalia speed reader, bisa nelan buku, baca dengan sangat cepat. Itu mungkin dari saya, tapi mereka punya karakter sendiri, Dan saya pikir tak apa, semua berjalan baik. - Ciska jauh lebih santai, ya? - Sangat. - Nolong tuh, keseimbangan. - Betul. Memang suka enggak suka saya orangnya intens, sangat intens, meskipun moga-moga, apalagi setelah 9 bulan di penjara, sekarang lebih mellow, lebih halus, tapi Gita kan kenal saya dari 25 tahun yang lalu. And ingat betapa kerasnya saya dulu. - Enggak ada kompromi dulu sama lu. - Sekarang moga-moga udah lebih bijak, udah lebih halus. Kalau Ciska dari dulu lebih bijak. Lebih, "Oke jangan langsung menghakimi, coba lihat dari dua sisi." Yang Gita bilang "chill". - Dan dia juga kuat secara spiritual, kan? - Oh, sangat, dia sangat beragama, sangat beriman, sangat Katolik. Dialah yang ngajarin saya dan selalu jagain saya, karena terus terang saya sering kali kayak malas ke gereja. Tapi itu juga berubah setelah 9 bulan di penjara, banyak baca buku-buku spiritual, dan sekarang saya jauh lebih dekat dengan sisi spiritual saya, dengan agama saya, dengan keimanan. Sebenarnya sih berapa tahun terakhir lah, enggak tahu apakah itu faktor usia tapi bahkan waktu kampanye pilpres terasa banget sering kali kayak tangan Tuhan, tangan Tuhan banget, terasa banget itu enggak bisa atau sangat sulit diterangkan atau dijelaskan dengan keterangan lain selain, "Wah, ini tangan Tuhan betul ini." - Kemarin ada pesan dari spiritualis di acara Endgame Town Hall. Ada beberapa pesan, salah satunya adalah lebih penting untuk kita saleh sosial daripada saleh ritual. Iya, kan? Mungkin lu enggak sesering yang lu pengin ke gereja, tapi kalau lu tuh sangat empatis terhadap sesama, itu justru yang diinginkan dan itu pesan dari para nabi. - Setuju. Setuju banget. Ekstremnya kan rada munafik kalau kita terlalu ritualistis, tapi pada kenyataannya dalam hidup sehari-hari kita tidak benar-benar menghargai sesama manusia dan itu kelihatan dari hal-hal kecil sehari-hari. Bagaimana kita bersikap kepada pelayan di restoran, bagaimana kita bersikap kepada staf rumah tangga kita sendiri atau kepada misalnya staf kita sendiri atau kepada tukang sapu, atau satpam yang kita berpapasan. Enggak usah jauh-jauh dan enggak usah terlalu gede, hal-hal kecil justru yang hemat saya menunjukkan karakter kita yang sebenarnya., - Betul. Dan tentunya masyarakat luas. Nah, gua mau coba bungkus ini dalam konteks membangun bangsa. - Siap. - Ini kan kepentingan kita untuk menunjukkan empati atau saleh sosial. Gimana supaya Indonesia nih bisa lebih keren? Ini bisa digali dari beberapa cabang, tapi yang mungkin gua mau coba suntik di sini adalah gimana supaya kita bisa membudayakan. Membudayakan, supaya unsur ambisi, imajinasi dan kehokian itu lebih nyata, khususnya di generasi penerus, yang anak-anak muda. Menurut saya Anda sedang melakukannya sekarang. Anda dan podcast terbesar lainnya, influencer yang besar di atau yang banyak fokus ke substansi materi, bukan hanya kepada hiburan—gimmick. Hiburan perlu sebagai atraksi dan bumbu gitu ya, tapi podcaster, influencer, yang memang intinya itu substansi materi, dan semua dimensilah, ilmu pengetahuan, tapi juga filosofi, prinsip-prinsip, nilai-nilai, norma-norma, saya kira Gita dan influencer podcast seperti itu sedang saat ini mengubah kultur kita. Ini dampaknya gede banget. emang butuh sedikit waktu tapi berkat media sosial sekarang jauh lebih cepat budaya bisa berubah dibandingkan dulu. Jadi, ide itu nyebar dengan sangat cepat, influencer, podcaster bisa menjangkau jutaan audiens dengan sangat murah, dengan sangat mudah, dan saya lihat pasar mulai bergeser. Dan saya sempat ngobrol sama Thalia dan Max juga soal ini. Kita ingat waktu mereka masih kecil, usia 5, 6, 7 tahun, yang mendominasi YouTube itu yang konyol-konyol, iya kan? Yang gebuk-gebukan, yang pleset- plesetan, yang lucu-lucu, tapi mungkin dengan makin dewasanya generasi itu, akhirnya pasar juga berubah, kan? Yang mereka cari adalah jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sulit saat mereka remaja, saat mereka mulai dewasa, terus mulai lebih sadar mengenai dunia. Dan sekarang saya lihat justru podcaster, influencer seperti Gita dan lain-lain yang justru memberikan jawaban-jawaban yang serius, yang penuh makna, dan penuh substansi yang semakin laku di pasar dan yang pure entertainment, yang hanya sepenuhnya penghibur saja, yang kecil porsi substansinya itu rada sudah surut mungkin. Itu satu, kedua, masyarakat sipil tuh besar sekali peranannya mungkin istilah ormas sekarang punya konotasi negatif tapi grup-grup kerelawanan, terutama yang lokal, yang mendorong kebersihan publik, mendorong jangan buang sampah sembarangan atau ngajak komunitas untuk bersih-bersihin sampah, ngumpulin sampah, bahkan keluarin sampah dari sungai, atau grup-grup yang mendorong kesehatan ibu dan ibu hamil, tentunya di posyandu-posyandu. Jadi, masyarakat sipil yang saya kira akan sangat berperan untuk membudayakan istilah yang tadi kita pakai, sebuah kultur baru bagi segenap masyarakat terutama yang generasi penerus. - Gua tuh selalu ngomong kalau lu jalan dari Sabang sampai Merauke, 88% dari kepala rumah tangga tuh enggak punya pendidikan universitas. Gila! Jadinya, lu jangan komplain kalau kualitas pemimpin enggak terlalu oke, karena kolamnya kecil banget, kan? Dan gue selalu menyampaikan, seorang anak di rumah, dia satu dari dua atau tiga anak, dan kalau orang tuanya berpendidikan, syukur, alhamdulillah. Tapi kalau dia enggak berpendidikan, satu-satunya harapan adalah begitu dia jalan ke sekolah, dia bisa berhadapan dengan guru yang berhadapan dengan 20 sampai ratusan murid. Jadi, gua pikir kalau kita mau meng-scale-up apa pun yang kita inginkan ke depan supaya kita bisa lebih maju, ini yang harus diinvestasikan, gurunya. - Setuju. - Tapi gua enggak ngelihat adanya langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kualitas guru. Apalagi kalau sticky banget untuk tetap menggaji mereka 2,8 juta sebulan. Sticky banget untuk memberikan honorer di SD 500.000 sebulan, di daerah Sulawesi Tenggara kek, atau di mana pun. Hingga ini dirubah, sulit untuk kita mengubah budaya. - Setuju banget. Mungkin kita merasakannya sendiri bahkan di SD, di SMP, bagi saya di Regina Pacis, Palmerah Jakarta, sekolah yang sangat bagus setidaknya waktu itu, atau sekarang masih bagus, tapi sekarang tentunya juga banyak sekolah swasta. Dan di SMA, apalagi di Deerfield, guru-guru yang benar-benar menginspirasi dan memang jago untuk mendidik anak usia segitu, dan itu tahun-tahun yang paling formatif: SD, SMP, SMA. Malah kuliah kita lebih mencari sendiri, kita menggali sendiri. Tapi sebelum kuliah sampai SMP, SMA, guru perannya luar biasa. Jadi, setuju 1000%. Nah, soal kenapa kok enggak pernah kita anggarkan dengan baik gaji guru, kompensasi guru, status sosial guru? Pertama, memang perlu komitmen politik. Sebelumnya, itu enggak pernah dianggap penting, dan saya bisa mengerti kenapa 10 tahun terakhir kita sangat berorientasi membangun ekonomi dengan sebuah strategi yang fokus ke sektor-sektor yang padat modal, infrastruktur, jalan tol, bandara, pelabuhan, kemudian industri, karena memang di 2012-2014 yang paling dianggap bisa menjadi model seluruh dunia kan Tiongkok. Setelah krisis keuangan global 2008, orang pikir, "Wah, model perekonomian a la Amerika itu kadaluwarsa, tidak lagi optimal bagi dunia saat ini. Dan waktu itu semua orang kagum dengan Tiongkok yang jalan tolnya luar biasa, yang jaringan kereta cepatnya luar biasa, yang industrinya berkembang luar biasa. Jadi, semua orang berbondong-bondong mau memfotokopi strateginya Tiongkok. Tapi sekarang pun Tiongkok mulai kesulitan dengan strategi ekonomi tersebut, mereka sudah mentok, industri sudah mentok, bahkan overproduksi. Overcapacity, overproduksi. Membanjiri dunia dengan produk, akhirnya harga produk jatuh dan perdagangan global makin timpang. Dan juga infrastruktur di Tiongkok misalnya, itu banyak sekali pemborosan. Jalan tol yang kosong, bandara yang kosong, pembangkit listrik mungkin yang tidak sepenuhnya terpakai atau— pokoknya banyak proyek padat modal yang ternyata merupakan sebuah misalokasi sumber daya. Nah, anggaran pendidikan sesuai undang-undang kan 20% dari APBN. Tapi nyatanya dari uang segede itu, katakan APBN kita di kisaran 4 ribu triliun per tahun, 20% kan berarti 800 triliun rupiah per tahun. Ini kita harus dalami pada lain kesempatan, tapi setahu saya banyakan porsi itu bukan ke gaji guru, honor guru honorer, atau kompensasi atau investasi dalam keterampilan guru supaya bikin guru benar-benar jago mengajar. Dan bahkan juga porsi yang ke renovasi gedung sekolah, peralatan sekolah juga setahu saya tidak begitu besar. Sebagai contoh, sekali lagi saya masih dalam proses menggali angka-angka yang sebenarnya, tapi sebagai contoh, saya dapat info porsi cukup besar itu ke sekolah- sekolah vokasi yang dibina oleh kementerian dan lembaga seperti sekolah pilot, sertifikasi teknis atau semacam kuliah teknis untuk bisa menjadi pilot pesawat terbang. Kemudian sekolah-sekolah teknik lain yang sebetulnya bisa didanai dengan cara lain justru—misalnya sertifikasi vokasi seperti itu menurut saya paling ideal untuk didanai dengan kredit, dengan pinjaman pendidikan karena dunia lagi kekurangan pilot pesawat, jadi lapangan kerja hampir pasti terjamin dan gaji pilot naik terus - Offtake-nya jelas. - Offtake-nya jelas, persis. Jadi, siswa yang akan lulus harusnya bisa sangat percaya diri. - Kredibilitasnya tinggi kalau offtake-nya jelas. - Dia dengan mudah akan bisa melunasi hutang kuliah. Jadi kan lebih baik APBN yang ke sektor itu dialihkan ke gaji guru, kompensasi guru, termasuk yang honorer maupun ke sarana-sarana yang mempermudah tugas guru. Tapi balik lagi, pertama, perlu pengertian, perlu pengetahuan bahwa ini memang kuncinya, bukan nambah lagi jalan tol, nambah lagi bandara, nambah lagi berbagai industri yang sudah over capacity, over supply, apalagi secara regional. Tapi memang anggaran harus dialokasi, harus dialihkan ke Anda benar banget, Git, sangat-sangat tepat sekali, kuncinya di guru. - Dalam sejarah tuh enggak ada bangsa yang maju tanpa adanya investasi di infrastruktur lunak. - Betul. Software. - Dan gua ngelihat, okelah ini bukan mau membela Tiongkok, tapi kalaupun mereka memang membangun infrastruktur yang nonlunak yang luar biasa, mereka juga enggak lupa investasi di infrastruktur yang lunak. - Betul sekali. - Nah, ini gua sangat yakin kalau kita enggak mengubah sikap atau postur terkait dengan guru, mungkin inkrementalisme ke depannya, iya kan? Dan kita enggak bisa lompat. Dan ini agak disayangkan untuk negara yang sebesar kayak begini. Dan kalau kita mau kupas lagi ini mungkin 70-an% dari anggaran pendidikan ini didisentralisasi ke lebih dari 500 titik, yang mana pemimpin daerah mungkin aja agak beda pemikirannya untuk pengalokasian untuk lunak dan nonlunak. Dan juga gua baru aja sadar bahwa kriteria untuk merekrut guru itu enggak ditentukan oleh Kementerian Pendidikan, tapi oleh kementerian yang lain. Jadinya ini akuntabilitasnya gimana ini? Antara daerah dan pusat, antara satu kementerian dengan kementerian yang lain. - Betul. Saya kira Gita dan saya tetap percaya banget dengan pentingnya desentralisasi, tapi itu bukan berarti bahwa tidak boleh ada arahan jelas dari pusat. beberapa pimpinan daerah sering ngeluh ke saya bahwa dari berapa tahun lalu praktis boleh dibilang tidak ada arahan dari pusat, tidak ada KPI, tidak ada benchmark, tidak ada standar, tidak ada perumusan ekspektasi. Sebagai bupati, ekspektasi kami A, B dan C, atau inilah contoh bupati yang sukses. Dia struktur anggarannya kira-kira seperti ini, terus struktur kebijakan fiskalnya kira-kira seperti begini. Pajak bumi dan bangunan kira-kira seperti ini. Jadi, tidak ada arahan ataupun edukasi ke pimpinan-pimpinan daerah. Setahu saya tidak ada akademi, tidak ada mata kuliah bagaimana caranya menjadi gubernur, bupati, atau walikota, atau bahkan kepala desa yang baik; atau tidak ada mata kuliah mengenai percontohan sebuah anggaran pemerintah daerah, sebuah APBD yang optimal itu kira-kira seperti apa. Faktor-faktor apa yang harus diperhatikan dalam menyusun struktur APBD? Itu minimal sekali. Nah, ini balik lagi pentingnya podcaster, influencer, karena hemat saya harapan terbaik untuk bisa menjangkau bupati-bupati muda, walikota-walikota muda, atau terlepas usia, pimpinan daerah yang idealis, reformis, pengin kerja dan pengin mengabdi adalah melalui media sosial seperti podcast dan konten-konten yang gampang diakses melalui online. - Gua sih percaya dengan proses dan sikap kita untuk terus melakukan demokratisasi, dan itu tersalin dalam desentralisasi. Tapi hal yang paradoksal adalah kalau gua coba bandingkan antara Tiongkok dengan anggaplah Indonesia atau banyak demokrasi di dunia, Tiongkok tuh secara politik sentralistis, tapi secara ekonomi sangat desentralistis. Sedangkan banyak demokrasi di dunia secara politik desentralistis, tapi secara ekonomi sentralistis. - Betul. - Ini gampang, ngelihat gini coefficient ratio, ngelihat sentrapetalisme yang mana pertumbuhan ekonomi di kota primer lebih tinggi, lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi di kota sekunder, apalagi di daerah. Ini nyata, tapi ujung-ujungnya harus ada akuntabilitas antara pusat dengan daerah dalam konteks penggelontoran. - Mungkin contoh yang juga bagus kita pelajari itu Inggris, UK, di mana anak-anak saya satu masih kuliah di sana, satu baru selesai SMA di sana. Dan diketahui banyak kalangan, terutama peneliti bahwa kenapa pertumbuhan ekonomi Inggris lemot, lemah sekali, antara lain karena ketimpangan antara London dan Inggris bagian selatan di seputar London, dengan hampir seluruh bagian lain dari negara Inggris. Dan akademisi, peneliti, sudah bertahun-tahun, puluhan tahun mungkin, menghimbau agar pemerintah Inggris di London lebih mendesentralisasi, lebih memberikan wewenang dan anggaran ke walikota-walikota, ke pimpinan daerah, dan lebih membuka ruang untuk bottom up, untuk pimpinan daerah memutuskan sesuai keperluan daerah, jangan semuanya dicoba dikendalikan dari London. Dan itu entah kenapa tidak pernah dilaksanakan oleh semua parpol di sana. Mereka tetap sangat London-centrist, sementara di Tiongkok, benar sekali, sangat didesentralisasi, mungkin karena memang negara yang sebegitu besar dengan penduduk 1,4 miliar warga, tidak mungkin dikendalikan semua dari Beijing. Dan semua orang yang menjadi presiden atau perdana menteri di Tiongkok itu udah keliling, sudah jadi walikota di kota-kota sekunder, sudah jadi bupati atau gubernur. Xi Jinping pun juga kalau enggak salah ingat pernah di Dalian dan Fujian. Jadi memang bagian dari karier pimpinan pemerintah atau pejabat itu keliling dan mereka harus kelola sebuah kota, sebuah provinsi, dan mereka memang punya wewenang, punya anggaran untuk bisa sangat optimal memutuskan apa yang memang terbaik yang cocok untuk daerah itu. - Betul. - Nah, juga merupakan sebuah mispersepsi bahwa Tiongkok itu begitu otoriter. Memang hanya satu partai yang berkuasa, tidak ada pemilu, tapi jelas sekali bahwa pemerintah di Beijing itu sangat peka terhadap opini publik. - Absolutely. - Benar-benar peka sekali. Dan bahkan ada yang bilang sangat takut. Sangat takut dengan opini publik. - Betul. - Berapa kali kejadian, seperti di penghujung pandemi global COVID, Beijing masih agak berlebihan, ngotot lockdown, padahal vaksin sudah ada, dan negara- negara lain sudah meninggalkan praktik lockdown, tapi dia masih ngotot, demo di berbagai kota, pemerintah Beijing mundur. Dia bukannya kirim tentara untuk babat atau untuk represif kepada rakyatnya, atau publik yang bersuara, tapi justru mendengar suara rakyat dan dia yang mundur. Dan di dalam partai tunggal, partai komunis, itu ada sistem merit yang sangat kompetitif. Jadi, berbagai orang harus melalui sebuah persaingan yang luar biasa, mereka berlomba-lomba untuk mencetak prestasi karena memang mereka terpilih atas dasar prestasi. Memang juga ada dinasti politik atau faktor lobi atau ordal tapi jauh lebih kecil daripada banyak negara, termasuk negara yang kita persepsikan sebagai negara demokrasi itu juga justru mungkin lebih kental lagi aspek dinasti politik dan aspek keluarga-keluarga politik. - Banyak sekali paradoks mengenai Tiongkok. Tiongkok itu bulat enggak mau mensubstitusi akuntabilitas dengan otoritas. Dan Tiongkok itu perceraian antara postur kebijakan dengan opini publik itu tipis sekali dibanding banyak demokrasi yang mana opini publik itu sangat cerai dari kebijakan. - Betul. - Dan ini harus dibicarakan, harus didiskursuskan, syukur-syukur disikapi. Dan gua ngelihat walikota sama gubernur kalau mau jadi di Tiongkok itu harus dipilih oleh standing committee. - Right. - Tapi lu juga harus dikurasi, IQ lo berapa, kredensial lo gimana. Itu proses penyaringan yang luar biasa, kan? Jadi sebelum orang jadi walikota, jadi gubernur di Tiongkok, itu udah terbukti. CV-nya tuh udah bisa dipertanggungjawabkan banget. Itu mungkin sistem yang beda, tapi yang nyata—ini gua baru ngobrol sama ekonom namanya Keyu Jin, yang mengupas dan mengekpose bahwasanya kesuksesan ekonomi Tiongkok adalah bagaimana desentralisasi aktivitas ekonomi itu dipelopori oleh walikota. Makanya dia menjuluki ini "the mayor economy". Jadi ini ekonomi atau perekonomian yang didorong oleh walikota-walikota. Jadi kalau lu walikota Chongqing, lu mau buka pabrik Daimler, lu ke Stuttgart, lu nge-deal sama mereka langsung, enggak perlu konsultasi Beijing. Kalau lu di sini di Jember lu mau buka pabrik, lu harus ngomong sama menteri A, menteri B, menteri C, menteri... Iya kan? Nah, itu paradoks yang harus disikapi atau disadari. - Mungkin yang menjadi kunci adalah kelembagaan atau seberapa jauh hal-hal seperti itu dilembagakan dengan baik. Di Tiongkok itu berbagai hal seperti itu sudah terlembaga, sudah dilembagakan dengan sangat baik, mulai dari edukasi calon walikota, edukasi calon gubernur... Jadi mereka ada training program yang beneran, yang benar-benar tadi saya bilang percontohan struktur anggaran daerah yang optimal seperti apa, terus kenapa kebijakan kayak gini tidak akan berhasil, lebih baik kebijakan seperti ini. Jadi istilah saya mungkin benar- benar ada akademinya. Mereka mulai berbagai persiapan yang luar biasa sampai mereka benar-benar matang. Sudah siap betul untuk pegang amanat jadi walikota, sudah terseleksi, dan ditambah lagi sudah terlatih, sudah diberi modal ilmu pengetahuan, keterampilan, termasuk keterampilan komunikasi, termasuk keterampilan berdiplomasi yang di banyakan negara itu enggak ada, termasuk di banyak negara demokrasi. Mereka belajar sambil jalan, itu tidak dilembagakan. Mereka cari tahu di YouTube atau cari tahu di internet, ambil konsultan, dan Tiongkok dan beberapa negara lain kayaknya sukses karena kelembagaan. Nah, tadi kita pakai istilah "perangkat lunak", itu bagi saya juga bagian dari perangkat lunak atau software yang sangat penting, yaitu kelembagaan. Sementara sayangnya di banyak demokrasi, ada lingkaran setan di mana kesulitan ekonomi membuat warga memilih pimpinan yang populis. Pimpinan populis itu kemudian menghabisi institusi-institusi atau melemahkan institusi-institusi dan merusak kelembagaan-kelembagaan karena dengan melemahnya kelembagaan, semakin besar power yang ada di eksekutif, kan? Jadi sudah tidak ada lembaga-lembaga yang berbagi kekuasaan dengan eksekutif, dengan apakah itu perdana menteri atau presiden. Jadi memang di Tiongkok, Presiden Xi Jinping sangat-sangat berkuasa, tapi seperti Gita bilang, mulai dari walikota, gubernur benar-benar diberdayakan dan dijaga dengan akuntabilitas. Kita di Indonesia mungkin juga punya paradigma yang salah, semuanya mau disentralisir karena kita anggap pimpinan daerah tidak pernah akan becus, padahal kan itu bisa diselesaikan dengan edukasi, dengan upaya-upaya yang edukatif yang sebaiknya kita lembagakan. Seperti melalui proses seleksi, proses pembekalan dengan ilmu keterampilan dan pengetahuan sebagainya, dan yang super penting, akuntabilitas, transparansi. Jadi kita jamin pimpinan daerah, gubernur, bupati, walikota, kepala desa enggak nyeleweng dengan transparansi dan akuntabilitas. Bukan dengan kita mencoba, istilah saya "micromanaging", mau mengendalikan semuanya dari Jakarta, itu enggak mungkin berhasil. Sama seperti Beijing, sudah puluhan tahun menyadari tidak mungkin mengendalikan negara sebesar itu, dengan populasi sebesar itu secara sentralistis. Mereka enggak punya pilihan kecuali melakukan pendelegasian wewenang dan pendelegasian anggaran. Dan semakin cepat kita menyadari itu, semakin cepat kita bisa maju, kita bisa memperbaiki keadaan. - Pajak mau rendah atau tinggi, penggelontoran dana ruang fiskal untuk infrastruktur lunak atau nonlunak itu oke-oke aja selama ada akuntabilitas. Dan Beijing ini bulet tidak mau mensubstitusi akuntabilitas dengan otoritas. - Contoh nyata, mereka sudah ganti Menteri Pertahanan mungkin dua atau bahkan tiga kali dalam 3-4 tahun terakhir. Padahal itu sosok yang dekat dengan Presiden Xi Jinping, bahkan dalam beberapa hal diseleksi atau dipilih oleh Xi Jinping sendiri. Tapi begitu ketahuan ada korupsi atau kebijakan yang aneh-aneh, akuntabilitas itu enggak bisa distop. Selesai. Bahwa dia dekat dengan Xi Jinping, enggak ada urusan. Dan justru Xi Jinping memberlakukan akuntabilitas keras seperti itu. - Kayak Lee Kuan Yew, dalam konteks guru, dia tuh percaya untuk merekrut guru dari persental 20% teratas. Dan ini ada bukti empirisnya bahwasanya kalau lu merekrut guru dari 20% teratas, dia tuh dalam setahun bisa ngajar 1,5 tahun ajaran, tapi kalau lu ngerekrut guru dari yang di bawah atau bottom, dia dalam setahun hanya bisa ngajar 6 bulan ajaran. Jadi lu udah ngelihat diskon nation buildingnya ada kalau lu enggak merekrut guru yang di atas. Nah, dia juga bulat dari awal sampai akhir masa eksistensinya dia, dia itu mengelilingi diri dengan orang-orang yang memiliki atribut kompetensi, akuntabilitas, integritas. Simpel loh sebetulnya. Dan itu kalau dijiplak aja, jadi ini barang. - Simpel tapi tidak mudah. - Simpel tapi enggak simpel. - Simpel tapi tidak gampang, berat, karena lebih mudah mengelilingi diri dengan penjilat atau dengan teman, membentuk sebuah zona nyaman bagi diri seorang pemimpin daripada mengelilingi dirinya dengan ahli-ahli yang mungkin bikin kita jadi merasa bego, atau dengan orang-orang yang idealis dan argumentatif. Biasanya orang idealis, orang yang memang ahli kan argumentatif. Jadi kalau seorang pemimpin mengelilingi dirinya dengan orang-orang idealis, ahli-ahli, itu suasana menjadi argumentatif dan banyak debat atau argumentasi. yang buat Gita dan saya itu hal biasa dan justru itu yang kita cari. Kita justru menginginkan itu. Kita menginginkan konflik ide, kita menginginkan konflik atau pertarungan gagasan. Biar gagasan terbaik, ide terbaik itu yang menang dan kita ikutin ide terbaik, ide dan gagasan yang menang melalui sebuah proses perdebatan. Tapi kita memang butuh mental yang berbeda daripada pemimpin yang memang punya tujuan lain. - Tom, gua sempatlah di pemerintahan dulu, gua tuh setiap hari nyubit diri untuk ngingetin diri gua sendiri bahwa gua tuh sebagai teknokrat tanggung jawabnya adalah untuk menyampaikan ke atasan apa yang dia harus dengar, bukan apa yang dia mau dengar. Iya kan? Nah, ini balik ke apa yang kita bahas kemarin tuh hari Sabtu, gimana untuk mencari titik temu yang optimal antara kekuasaan dan talenta? Tapi ini yang struktural adalah kolamnya kecil. Balik ke 88% yang enggak punya pendidikan S1. Nah, tugas kita adalah untuk menurunkan 88% ini ke nol secepat mungkin. - Iya. Mungkin ini juga, saya tertarik sekali apakah dengan revolusi digital dan revolusi media sosial, dan revolusi artificial intelligence, mungkin credential-credential, bahasa Indonesianya sertifikasi atau kualifikasi bisa berubah? - Di Albania sudah ada Menteri yang AI. Itu kan membuang subjektivitas. - Iya. Nah, mungkin dengan ketersediaan podcast-podcast seperti Gita punya dan lain-lain, dengan banyaknya konten edukatif di online, orang yang tidak punya S1, tapi rajin autodidak, rajin mengonsumsi konten intelektual, bisa mengalahkan seseorang yang punya gelar S1 tapi hanya formalistis, dia hanya menggugurkan semua kewajiban yang harus dipenuhi untuk bisa dapat S1 tapi mungkin belum tentu dia jiwa pelajar, jiwa yang benar-benar punya rasa ingin tahu, apalagi komitmen untuk menerjemahkan konsep menjadi aksi nyata di lapangan. Kan kita tahu dalam sebuah pasar, dalam sebuah ekonomi pasar atau dalam peredaran kegiatan ekonomi dan sosial, kalau lembaga-lembaga formal gagal memproduksi atau melayani kebutuhan masyarakat yang diinginkan, masyarakat akan lari ke cara-cara nonformal. Katakan kita kekurangan profesor, kita kekurangan kampus, kita kekurangan segala macam, tidak ada kemauan politik untuk menganggarkan dengan baik baik kompensasi guru ataupun sarana-prasarana bagi sekolah, orang akan lari ke online, orang akan lari ke autodidak, orang akan belajar dari podcaster, dari youtuber, influencer, dan berbagai konten online lainnya melalui seminar-seminar online, melalui master class, dan misalnya orang akan pikir, saya misalnya, kan S1 saya di bidang desain kota, kok tahu banyak mengenai bisnis, mengenai keuangan? - Autodidak. - Autodidak, dan dulu belum ada internet bahkan, apalagi media sosial, yang ada waktu itu kan majalah-majalah seperti Fortune Magazine, Forbes Magazine. Waktu itu Businessweek, sekarang sudah diakuisisi oleh Bloomberg menjadi Bloomberg Businessweek. Saya banyak sekali belajar mengenai bisnis dari majalah-majalah seperti itu, bukan dari mata kuliah atau dari pendidikan formal. - Gua hanya berharap bahwa—karena banyak banget konten yang enggak-enggak. Dan ini platform-platform medsos kan agak-agak terus-menerus mencari clickbait, jadinya yang sensasional itu yang masih lebih laku, tapi yang intelektual mungkin enggak selaku seperti apa yang kita inginkan. Jadi, gimana untuk memerangi sensasionalisasi ini dengan intelektualisasi supaya proses autodidak ini bisa terjadi? - Hemat saya, sekarang pun sudah mulai terjadi. Saya melihat sudah mulai pergeseran pasar itu, makin banyak orang nyari konten yang memang bermanfaat untuk menaikkan derajat hidupnya dari berbagai dimensi, apakah itu penghasilan, bagaimana caranya bisa meningkatkan penghasilan, bagaimana caranya lebih efektif dalam berusaha atau berniaga dalam dagang, bagaimana caranya lebih efektif sebagai public speaker, gaya komunikasi dan sebagainya. Dan kayaknya marak juga kayak seminar- seminar online, seminar-seminar offline, memang mungkin belum tentu merata dari segi kualitas, tapi konten yang hiburan itu masih ada, dan juga konten sampah banyak. Tapi saya melihat trennya udah ke konten- konten yang minimum menginspirasi. Dan bahkan yang mengedukasi karena generasi muda yang dulu memang terhibur dengan nonton yang konyol-konyol, yang lucu-lucu, sekarang masuk ke tahapan-tahapan hidup di mana mereka mulai berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat fundamental. Apa tujuan hidup saya? Saya ini mau jadi orang seperti apa? Saya ini sebenarnya kayak apa sih? Atau bagaimana menjalin hubungan antara suami dengan istri, bagaimana menjadi orang tua yang baik, itu yang makin banyak dicari. Dan hemat saya, sejarah juga menunjukkan hal yang sama. Jadi waktu mesin cetak, the printing press, saya lupa persisnya... - 1450. - Thank you. - Johannes Gutenberg. - Gita jauh lebih hafal gini-ginian daripada saya. Johannes Gutenberg, circa 1400 membuat mesin cetak. Nah, kan memang itu tujuannya awalnya hanya untuk cetak Alkitab, untuk mendemokratisasi akses kepada Alkitab. Sebelum itu Alkitab ditulis tangan, jadi sedikit sekali yang punya Alkitab. Dengan mesin cetak tiba-tiba semua rumah tangga— mungkin tidak semua karena waktu itu buku cetak masih mahal. Tapi dengan berkembangnya teknologi cetak, mesin cetak pertama 1450, Revolusi Amerika, Revolusi Prancis itu 1750-an, 1700 sampai 1800. Dan dulu yang namanya pamflet itu kayak hoax medsos zaman sekarang. Jadi, petarung-petarung politik itu saling memfitnah, saling mencela, nyebarin kebohongan-kebohongan dengan mesin cetak. Pamflet yang diproduksi secara massal, dibagi-bagi, ditempel ke dinding-dinding, dan dibagi-bagi ke warga di jalanan. Dan isinya banyak hiburan, banyak guyonan, lelucon, tapi juga banyak isinya fitnah yang menjatuhkan lawan politik, dan sebagainya. Tapi lama-kelamaan kan kultur mereka berevolusi, mereka lebih maju, akhirnya mesin cetak lebih dipakai untuk buku, untuk majalah dan mulai muncul majalah- majalah per sektor. Jadi bagi misalnya majalah buat tukang pipa, kayak "Plumbers Weekly", atau "Plumbers Monthly" atau di Amerika dulu —ini udah bukan zamannya majalah tapi masih ingat— majalah-majalah seperti Car and Driver atau Popular Mechanics, atau Architectural Digest, Home and Garden. - Kesukaan saya, Home and Garden. Sampai hari ini gua masih baca. - Iya kan? Dan orang belajar teknik tanaman, teknik berkebun, landscaping gitu kan dari majalah-majalah seperti itu. Nah, sekarang juga saya melihat pergeseran yang sama. Mungkin di awal-awal itu boleh dibilang kayak pamflet-pamflet online yang clickbait tadi, hal-hal konyol, bahkan berisi kebohongan atau distorsi fakta, yang penting memaksimalkan klik, memaksimalkan views dan likes. Tapi saya sekarang benar-benar melihat pergeseran pasar ke konten-konten yang dicari malah yang informatif, edukatif, dan yang paling penting, tepercaya. Itu kayaknya sekarang masyarakat kita sudah cerdas banget, bisa punya sikap curiga dan semakin selektif mana konten yang dipercaya, mana konten yang tidak dipercaya. - Ini polarisasi percakapan masih lah, kita enggak bisa pungkiri itu. Dan kalau ada dua kutub echo chambers, kiri-kanan, gua tuh sering kali menyampaikan dalam konteks anggaplah politik atau proses politik. Yang di kiri ini kalau berkampanye harus menyampaikan pesan yang penuh harapan. Tapi dia perlu kredibilitas. Tapi begitu ketahuan bahwa dia plagiat, selesai kredibilitasnya, gagal dia kalau mau maju. Tapi kalau yang di kanan kayaknya lebih gampang karena dia menyampaikan pesan intimidasi, pesan ketakutan. "Lu kalau enggak nyoblos gua atau enggak milih gua, lu bakal dirampok, bakal diperkosa, bakal di-ini, bakal di-itu." Enggak perlu kredibilitas. Nah, selama polarisasi ini enggak diobati, selama kesenjangan enggak diobati, karena menurut gua secara struktural kesenjangan tuh yang membuahkan polarisasi. - Betul. - Yang ini kayaknya bakal berkibar. - Makin menang. Hemat saya, hukum yang berlaku itu hukum alam, bahwa semua ada batasnya, bahkan para populis atau ekstremis, apakah ekstremis kanan atau ekstremis kiri, right wing-left wing itu ujungnya kehabisan bensin karena untuk terus menyulut. Menyulut amarah masyarakat itu, untuk jadi warga yang marah itu capek lama-lama. Jadi mungkin mereka marah, kecewa, dan itu bisa dieksploitasi oleh grup-grup politik ekstrem kiri, ekstrem kanan untuk merebut kekuasaan. Tapi lama-kelamaan orang sadar diri, rasionalitas orang muncul kembali. Itu menurut hemat saya gejala sesaat, meskipun saat ini tidak pendek, ini sudah mulai dari Brexit, tahun 2020, ya? Dan banyak terpilihnya pimpinan negara radikal kanan-radikal kiri itu sejak 2020, jadi sudah 5 tahun lebih. Tapi sekali lagi... - 2016 nih Donald Trump... - 2016? Eh sori, Brexit tahun 2016 dong, bukan 2020? sori, karena seingat saya kira-kira saat yang bersamaan Donald Trump terpilih dan Brexit referendum terjadi, dan syok bahwa mayoritas warga Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa, 2016, jadi sudah 9 tahun gelombang populisme ekstrem kiri-ekstrem kanan. Saya juga sudah mulai melihat gejala- gejala bahwa ini udah mungkin saat-saat terakhir, ini udah udah napas- napas terakhir dari gerakan itu karena balik lagi, ujungnya orang tersadarkan bahwa ini gimmick, ini manipulasi, ini eksploitasi dan pelan-pelan suara-suara yang terus menggaungkan fakta, data, realita, rasionalitas itu mulai lebih banyak mendapat audiens atau lebih banyak menjadi magnet karena sudah terlalu lama dan para ekstrem kiri, ekstrem kanan yang berkuasa selama ini gagal menghasilkan kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan. Dan analisis saya, orang sudah mulai mikir lagi untuk kembali ke yang namanya center. Center left, center right, bukan extreme left, extreme right. Tapi memang mungkin masih ada ledakan terakhir, masih ada upaya-upaya terakhir dari populis- populis ekstrem kiri, ekstrem kanan untuk tetap mencengkeram pada sistem perpolitikan, lembaga-lembaga perumus dan pembuat kebijakan. - Sentralisasi penting. Ini gua mau balik lagi dengan komparasi... - Sentralisme kali, ya. - Iya. Bisa sentral kiri atau sentral kanan... - Dibandingkan fanatisme,. Jadi bukan fanatisme, fanatis kiri fanatis kanan, tapi sentris. Sentrisme. - Dan itu kalau menurut gua berkorelasi dengan upaya siapa pun, bukan kita aja untuk lebih bisa mendemokratisasikan ide. Jangan hanya atau semata mendemokratisasikan informasi, tapi ide juga harus terdemokratisasi. - Betul. - Supaya kita bisa membuahkan sentrisme yang lu sampaikan tadi. - Dan memang yang penting banget di situ adalah pertarungan antara ide-ide. Pertarungan antara konsep-konsep, gagasan, biar gagasan, konsep, dan ide terbaik menang. Dan itu yang akhirnya terbentuk sebuah konsensus, Oke. Dalam perang antar gagasan, yang paling dipercaya publik adalah gagasan A, bukan gagasan B, C, D, dan E. dan itu melalui proses perdebatan yang terbuka dan diwarnai oleh kebebasan berekspresi tanpa rasa takut, tanpa ancaman. dan sebagainya, karena tanpa itu sulit sekali untuk jangankan menghadirkan gagasan, ide, konsep yang optimal, tapi tanpa perdebatan yang bebas, bahkan kita akan banyakan menganut konsep gagasan ide yang keliru karena tidak pernah diuji, tidak pernah dihadap-hadapkan, tidak pernah disuruh bertempur dalam arena pertempuran gagasan, pertempuran ide. Ini cuma sebuah gagasan, langsung diperintah oleh pimpinan tanpa diuji. Akhirnya baru belakangan ketahuan, wah ini konsep yang sangat keliru atau gagasan yang sangat keliru, atau kebijakan yang sangat sesat. Itu kan harusnya bisa dicegah dengan diuji sebelumnya melalui pertarungan dalam sebuah perdebatan yang intens. - Betul. Dan dalam perdebatan tuh penting untuk bisa musyawarah mufakat Agree to disagree. - Betul. Tetap saling menghormati. Jadi kita teriak-teriakan, banting meja atau apa pun kalau perlu dalam perdebatan, segitu selesai... - Minum bareng, ngopi bareng. - Keluar untuk ngopi bareng... "Eh, mau makan di mana? Yuk makan bareng." Padahal barusan berantem soal gagasan tapi kan tidak personal meskipun mungkin teriak-teriak, tapi kita tahu bahwa tujuan kita bukan nyerang saling nyerang secara pribadi, tapi tujuan kita adalah memperjuangkan ide kita, memperjuangkan gagasan kita, tapi setelah itu ya sudah, hubungan persahabatan atau hubungan antar warga tetap... - Gua dengar kemarin, persahabatan antara Cenk Uygur sama almarhum Charlie Kirk, satu ekstrem kanan satu ekstrem kiri. Kalau mereka berdebat, terus mereka sepakat untuk tak sepakat, terus mereka ngebir sama-sama sebagai teman, ideologi boleh beda, pandangan boleh beda, sikap boleh beda, tapi mereka tetap berteman. Itu yang kalau menurut gua yang harus dibudayakan. - Setuju. - Gua boleh beda pandang sama lu, tapi enggak berarti enggak bisa berteman. Iya kan? - Betul sekali. Memang polarisasi itu salah satu ancaman paling besar di dunia. Itu yang ujungnya menciptakan suasana politik yang serba berantakan karena orang tidak bisa membentuk sebuah konsensus atau tidak bisa saling menerima, semua ujungnya ngotot-ngototan dan tidak saling terima atau diwarnai oleh mental "Kalau tidak pro ide saya berarti anti saya." Padahal "ide" dan "diri" saya itu kan dua hal yang berbeda. Bisa aja tidak pro ide saya tapi bukan berarti dia tidak pro saya. Itu memang harus dibudayakan atau dilestarikan dalam diskursus secara umum. - Tom, gua mau balik lagi dalam perbandingan antara Tiongkok dan Asia Tenggara. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok dalam 30 tahun terakhir pendapatan per orang itu naik 10 kali lipat; Asia Tenggara naik cuma 2,7 kali lipat. Ini dikarenakan lima atribut. Yang pertama tadi kita sudah bahas, investasi Tiongkok di infrastruktur. Kereta api cepat sudah lebih dari 43 ribu kilo, kita cuman 120 kilo. Kedua, investasi di pendidikan nyata. Mereka prestasi tersier atau nontersier jauh lebih bagus daripada kita. Yang ketiga kita sudah bahas juga, titik temu antara talenta dan kekuasaan, governance, meritokrasi, dan segalanya. Yang keempat, perizinan. Nah, ini yang kita perlu bahas. Yang keempat tuh Tiongkok bisa mengeluarkan 10 izin per 1000 orang dewasa. Asia Tenggara hanya satu izin per 1000 orang dewasa. Tapi kalau kita kupas, Filipina dan Indonesia hanya bisa ngeluarin 0,3 izin per 1000 orang dewasa, Singapura 9. Rata-rata Asia Tenggara satu. Yang kelima adalah desentralisasi ekonomi. Di Tiongkok tuh nyata, di Asia Tenggara kurang nyata. Gua mau bahas atribut keempat, perizinan. Lu kan ngurusin izin. Gua juga sempat. - Sama-sama mantan kepala BKPM. - Nah, waktu kita ngelihat izin itu kan sebetulnya manifestasi dari tiga atribut. Tidak atau adanya fulus. Kalau duitnya ada, orang berlomba- lomba untuk ngurus izin, kan? Kedua, budaya, lu entrepreneurial apa enggak? Orang Tiongkok tuh pengin jadi entrepreneur. Terus yang ketiga birokrasi. Jadi skala atau kejauhan kita bisa mengeluarkan izin itu tergantung duitnya ada apa enggak, budayanya ada apa enggak, dan birokrasinya berkenan apa enggak. Gimana pandangan lo ke depan? - Perizinan ini kan memang sudah juga bagian dari sebuah lingkaran setan di mana budaya korupsi sudah begitu mendarah-daging ke mana-mana, dan perizinan itu sumber penghasilan bagi banyak orang. Pantas saja kalau pejabat, politisi itu bahkan aparat tidak punya insentif untuk memangkas regulasi dan memangkas rantai perizinan, karena setiap izin, setiap rekomendasi, setiap pengecualian itu bisa didagangin, bisa diuangkan. Iya kan? Jadi, akar permasalahannya kan memang semua pejabat ini harus punya cara lain untuk bisa membangun penghasilan dengan cara yang baik, bukan dengan dagangin izin. Jadi, masalah kompensasi tidak bisa dihindari meskipun pasti kontroversial. Masalah kompensasi pejabat. Kedua, misalnya aparat, banyak regulasi dan perizinan rasanya sengaja dibuat abu-abu sehingga suatu saat aparat bisa mengintervensi dan mengancam atau menuduh. Pertama menuduh kemudian mengancam. Dan itu pun juga menjadi sebuah sumber pemerasan, penghasilan. Bagaimana mematahkan lingkaran setan ini? Saya agak setuju dengan wacana Anies, karena dalam lingkaran setan dan kondisi yang mana duluan, telur atau ayam? Pertanyaannya, kita mulai dari mana? Anies tuh suka bilang yang paling natural kita mulai dari parpol-parpol. Mereka harus diberikan cara pendanaan yang lebih baik sehingga pertama, mereka tidak masuk ke kementerian lembaga yang tujuannya cuma satu, menguangkan perizinan, menguangkan kebijakan, yaitu korupsi dengan menguangkan kebijakan, menguangkan perizinan. Sering kali kan jelas itu tujuan parpol taruh orangnya di kementerian/lembaga. Jadi, mau tidak mau ini juga pasti kontroversial dan mungkin sebuah posisi kebijakan yang tidak populer, tapi hemat saya tidak bisa dihindari bahwa sebagian besar biaya parpol harus dibiayai dari APBN. Tidak akan menjadi peluru ajaib, tidak akan langsung menghilangkan segala korupsi, tapi itu mungkin permulaan yang baik, sehingga minimum parpol-parpol enggak usah lagi maksain orang-orangnya mereka jadi menteri, jadi gubernur, jadi apa, karena kebutuhan biaya politik minimum sudah ada, sudah tersedia, enggak usah nyari-nyari lagi melalui korupsi dan kolusi. Kita juga terjebak dalam lingkaran setan dari segi menguangkan perizinan, menguangkan surat rekomendasi atau pemerasan dan pemalakan, itu memang instan, langsung dapat mungkin tunai di depan bagi pejabat, petugas, aparat yang melakukannya. Tapi dari segi penghasilan akan jauh lebih baik dan lebih besar penghasilannya kalau petugas, pejabat, dan aparat bisa berpikir jangka panjang. Jadi andai kata ada mekanisme di mana mereka semua punya cara untuk membangun aset jangka panjang, yang asetnya nilainya akan naik kalau mereka menerapkan kebijakan yang baik, kebijakan yang jelas tidak abu-abu, perizinan yang murah, Aparat yang jujur itu membangun iklim usaha yang baik dan aset-aset yang mereka miliki nilainya akan naik jauh lebih besar daripada uang yang mereka bisa palak, uang yang mereka bisa peras di muka. Jadi, satu paradigma yang bagi saya fundamental adalah semua orang sekarang maunya instan-instan, mereka semua pikir jangka pendek, "Mumpung saya lagi menjabat, maksimalkan penghasilan dari perizinan." Dari memalak perizinan atau pemerasan, padahal kalau disimulasi kalau kita bikin proyeksi keuangan, atau proyeksi keuangan pribadi katakan, proyeksi keuangan keluarga, 10 apalagi 15-20 tahun, kalau mereka bangun aset yang nilainya akan naik beriringan dengan ekonomi yang bagus, dengan iklim usaha yang sehat itu setelah berapa tahun kekayaan mereka akan jauh lebih besar daripada uang yang mereka palak atau peras dari minggu ke minggu, bulan ke bulan. Mungkin itu sudah terasa besar, tapi enggak ada apa-apanya dibandingkan... Kita kan di Palo Alto dan di Silicon Valley, itulah kekayaan yang berkali-kali lipat dibandingkan dengan kekayaan pejabat kita yang korup. Jadi, mungkin ada tantangan alignment. Kita harus bangun mekanisme di mana mereka memang punya stake, punya aset yang jauh lebih bernilai, berharga bagi harta pribadi mereka jangka panjang daripada uang yang mereka kumpulkan dari minggu ke minggu melalui pemerasan, pemalakan dan korupsi. Dan itu ujungnya selalu buruk, selalu kayak— pokoknya itu selalu berujung buruklah. Sementara kebijakan yang baik, perizinan yang simpel, sederhana, dan efisien, dan semua pejabat, petugas, aparat punya stake in the system. Punya aset yang mereka ingin aset itu nilainya naik. Itu jauh lebih sukses dalam kurang waktu bahkan 7, 10, 12 tahun enggak akan harus tunggu lama untuk bibit-bibit seperti itu yang ditanam berbuah dan jelas nilainya jauh di atas yang bisa dikumpulin melalui korupsi dan kolusi. - Dan secara net present value juga sangat bisa dipertanggungjawabkan. Ini tergantung pemimpin dan kepemimpinan. - Dan balik lagi ke imajinasi. Kayaknya banyakan pemimpin politik kita tidak bisa membayangkan dunia seperti itu. Waktu kampanye Pilpres, Anies dan saya pernah bikin konsep namanya "Ownership society", "Masyarakat pemilik aset". Karena kita sebagai orang Wall Street, keuangan, tahu banget bahwa masyarakat Amerika dan banyak di negara maju itu sejahtera bukan karena gaji, bukan karena gaji dan bonus atau kompensasi, tapi karena aset, karena mereka menginvestasikan tabungannya di saham atau di properti seperti rumah atau aset lainnya dan dengan kebijakan ekonomi yang baik, dengan aparat yang baik, ekonomi bertumbuh baik dan kenaikan nilai aset-aset itu justru yang menjadi motor kesejahteraan publik yang kita kenal sebagai "Wealth effect". Jadi, orang sejahtera karena nilai rumahnya naik, nilai portfolio saham dan obligasinya naik, nilai aset-aset lainnya yang mereka bangun itu naik dan semua punya tujuan yang sama, pokoknya semuanya demi ekonomi yang imbang, yang bertumbuh secara stabil dan karena itu yang paling kondusif untuk pertumbuhan nilai aset jangka panjang. - Ini mengenai birokrasi, kan, yang dua atribut lainnya tentunya adalah budaya entrepreneurial yang kalau menurut gua nyambung dengan ambisi dan imajinasi. Tapi yang ketiga nih yang gua mau singgung, yaitu fulus. Nah, kalau kita lihat secara fiskal, keterbatasan pendapatan pajak itu nyata cuman 10% tax rasio, rasio pendapatan pajak terhadap PDB. Terus rasio uang beredar M2-nya terhadap PDB itu juga sekitar 45%. - Yang di bukunya Gita, Gita sebut sebagai likuiditas keuangan. - Nah, gue sih di Kubu yang percaya bahwasanya satu-satunya cara adalah untuk mendatangkan duit dari luar. Ini gua mau ngomong mengenai investasi. - Siap. - Kapasitas Singapura mendatangkan FDI secara absolut itu setiap tahun 100 sampai 130, 140 miliar dolar per tahun. Indonesia cuma 30-an. Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam itu masing-masing 10 sampai 20. Secara relatif kapasitas masing-masing warga di Singapura untuk menarik FDI itu 20.000 per orang per tahun. Indonesia, Filipina dan lain-lain itu cuman 100 sampai 400 dolar. Beda. Nah, ini kalau menurut gua, gua berhipotesa ini terkait dengan dua variabel atau atribut. Yang pertama, penegakan hukum. Singapura itu jelas. Apapun yang harus tegak, tegak. Yang kedua, kapasitas mentranslasi dari ketidakpastian menjadi risiko yang lebih bisa diukur, diprediksi dan dinilai. AAA kek, BB kek, C kek, atau apa. Dan modal tuh suka dengan risiko karena itu bisa diberi harga. Gua pengin ngobrol sama lo mengenai dua atribut ini. Penegakan hukum, dan gimana kita bisa menyalin atau mentranslasi dari ketidakpastian menjadi risiko, supaya modal ini yang berlimpah-limpah di dunia Barat khususnya, ini bisa datang ke sini, karena mereka berkepentingan untuk mendiversifikasi karena premi risiko di sana lagi meningkat tapi mereka enggak kenal kita dan kita enggak bisa mentranslasi. - Mungkin di akar dua atribut yang Gita sampaikan barusan, sistem hukum dan manajemen risiko, bagaimana mengelola risiko yang dibutuhkan. Tidak ada risiko, tidak ada return. Orang mencari risiko, orang mau mengambil risiko demi meraih sebuah keuntungan. Itu hukum pasar yang fundamental. Di akar dari dua atribut ini, pertama, soal hukum, dan saya baru saja mengalami sebuah petualangan 9 bulan lebih berurusan dengan hukum. Tapi memang dua-duanya ujungnya larinya ke kepercayaan. Kenapa negara-negara kecil seperti Singapura atau Swiss. Swiss juga sama gilanya, cadangan devisa mereka mencapai 1 triliun dolar, padahal populasinya cuman—saya enggak hafal persis,10 juta mungkin? Negara sekecil itu, Swiss. Arus modal yang masuk ke Swiss secara kumulatif bertahun-tahun sekarang sudah mencapai lebih dari 1 triliun dolar untuk hanya populasi sekecil itu. Tadi kita sudah singgung Singapura sekecil itu, dengan populasi 6 juta mungkin, bisa 140 miliar per tahun. - Asia Tenggara itu 200 sampai 230 miliar setahun. - Jadi katakan dalam 5 tahun itu sudah 700 miliar dolar. Karena kepercayaan investor, mereka percaya bahwa taruh uang di Swiss itu aman. Taruh uang di Singapura itu aman dari berbagai segi tentunya. Aman dari penipuan, \aman dari pembobolaan bank, yang namanya ekspropriasi, kesewenang- wenangan aparat termasuk aparat hukum. Kemudian bagaimana mengelola risiko. Nah ini yang bahkan hemat saya, teknokrat-teknokrat paling terdidik kurang mengerti atau sudah melupakan pentingnya risiko dan mengambil risiko. Jadi, setiap kali kita ada krisis seperti di Asia Tenggara, di Asia Timur tahun 1997, 1998, semua perumus kebijakan mau mengurangi risiko, krisis keuangan global 2008 semua pembuat kebijakan mau mengurangi risiko. Berisiko itu adalah bahan baku, bahan bakar yang memotori inovasi kewirausahaan. Jadi kalau kita mau membuat sebuah inovasi baru, itu kan risiko. Bisa-bisa inovasinya tidak berhasil. Inovasi itu selalu eksperimen, dan kita berwirausaha, kita mau coba-coba jadi pengusaha, itu juga risiko. Dan tanpa risiko tidak akan ada perkembangan atau pertumbuhan ekonomi. Banyak ekonom tuh heran kenapa ekonomi global kok lemot banget? Kan udah 10 tahun lebih... Itu karena semua pembuat kebijakan itu terus bekerja untuk menghilangkan risiko dari sistem perbankan, dari sistem keuangan, dari sistem asuransi, dan sebagainya. Tapi tanpa menyadari, itu justru menghilangkan bahan baku, bahan bakar inovasi, kewirausahaan, eksperimentasi, dan sebagainya. Contoh sederhana, di negara maju ada yang namanya "bankruptcy protection". Jadi memang benar-benar limited liability. Jadi orang mencoba suatu inovasi baru, gagal, ada prosedur yang sangat transparan, sangat teknokratis, sering kali melalui pengadilan, dan setelah itu, selesai. Dia bisa coba lagi, dia tidak kena stigma, apalagi ditandai di surat keterangan polisi, apalagi dipidana. Gita lebih tahu dari saya lah, karena sekarang banyak menghabiskan waktu di Silicon Valley. Kegagalan itu sesuatu yang dirayakan, diselebrasi... - Betul. - Itu justru tanda-tanda bahwa seseorang itu siap ambil risiko, siap mencoba sesuatu yang baru, mencoba mendorong inovasi,. Jadi, oke mulai dulu dari yang mendasarlah. Pertama, kerugian, termasuk kerugian negara kalau perlu, asal itu tidak ada korupsi atau kolusi, tidak ada "mens rea", jangan dipidana. Kewirausahaan, dari semua upaya usaha yang berhasil palingan cuma 10-20% Masa yang 80% mau dikatakan merupakan sebuah tindakan pidana? Kegagalan dalam bisnis dan sains seolah adalah tindakan kriminal. Jadi, risiko, kegagalan, kerugian, itu sisi lain dari sebuah koin. Tidak ada sukses tanpa kegagalan, tidak ada profit atau keuntungan tanpa potensi kerugian dan bahkan kerugian beneran karena sekali lagi hanya paling 10-20% dari semua upaya bisnis berhasil. Tapi kalau tidak dicoba, kalau orang tidak ambil risiko, tidak pernah akan ada perkembangan yang kemudian membuahkan pertumbuhan ekonomi. - Gua tuh selalu menggunakan metafor yang lu baru sampaikan, tapi juga menggunakan metafor olahraga. Olahragawan atau olahragawati itu yang sukses lebih sering gagal sebetulnya. Lebih sering kalah daripada megang medali. Mereka belajar kalah, mereka tahu caranya kalah. - Betul sekali. - Dan tinggal gimana mempersepsikan bahwa kekalahan tuh menjadi pemecut untuk bisa lebih baik ikhtiarnya ke depan. - Saya balik lagi, balik lagi. Git. Dan mohon maaf ulang-ulang. Kayaknya mengingat kita sekarang dalam realita dunia medsos, dalam realita dunia digital online, dan di awal-awal realita artificial intelligence melalui online, melalui media sosial merubah mental, merubah budaya. Tidak lagi mencela atau merendahkan orang yang gagal atau kegagalan. Dan kalau enggak salah ingat saya juga reposting di salah satu medsos saya, juga tidak berlebihan mengelu-elukan orang yang sukses. Dan tadi Gita singgung aspek hoki. Banyak banget peristiwa dalam hidup itu hoki. Hoki atau lagi sial. Jadi, sial atau hoki random, itu bukan faktor dalam kendali kita. Teman kita suka bilang "Better lucky than smart." Enggak ada tuh pengusaha yang sukses— kalau dia ngotot bahwa itu sepenuhnya berkat dia, itu bohong, karena pasti ada aja kejadian yang dia hoki, dia lucky. Dan sebaliknya, faktor di luar kendali kita yang membuat kita gagal, kenapa itu harus dibebankan kepada individu itu? Masalahnya ini kan faktor di luar kendali dia, kecuali memang kalau penipuan, nyolong, korupsi atau kolusi, tapi menurut saya kita mulai dengan mengubah mental, mengubah budaya, dan sekali lagi Gita dan influencer yang berorientasi substansi materi sedang melakukan itu. You're doing it right now. Sedang mengubah kultur kita dan mengubah mental kita. Kecerdasan itu sering kali kalah oleh atau dengan kecurangan atau premanisme. tapi kehokian itu tak terkalahkan. Iya kan? Nah, gua mau nanya nih. Ini kita sudah hampir 1 jam 45 menit nih. Spiritualitas lu, intuisi lu, gimana itu kalau disambungkan dengan kehokian lu akhir-akhir ini? - Benar banget, Git. Apalagi mendekam di penjara selama 9 bulan, banyak waktu untuk merenung dan bermeditasi, dan baca buku-buku spiritual. Dan balik yang tadi saya bilang, banyak peristiwa, banyak kejadian, banyak berkah, hampir tidak bisa dijelaskan dengan keterangan lain selain ini tangan Tuhan. Seperti kita sempat singgung di panggung Town Hall kemarin di Balai Kartini, misalnya pengalaman pribadi saya. Selama 9 bulan kita kuras otak, putar otak menampilkan argumentasi yang paling cemerlang untuk meyakinkan hakim, meyakinkan publik bahwa saya tidak bersalah; semuanya sia-sia. Akhirnya majelis hakim menjatuhkan vonis 4,5 tahun penjara, tapi hanya seminggu kemudian tiba-tiba datanglah yang namanya abolisi dari pimpinan eksekutif, dari Presiden, dan dari pimpinan legislatif, pimpinan DPR. Itu benar-benar tangan Tuhan. - Alhamdulillah. - Perjalanan saya selama 9 bulan lebih itu seperti rencana Tuhan dengan berbagai keajaibannya, dengan berbagai peristiwa luar biasa, terobosan perkembangan jauh di luar dugaan dan kelihatannya rencana Tuhan adalah saya harus melewati pengalaman itu, harus dikriminalisasi, harus dipenjara, harus belajar hal-hal yang mungkin tidak ada cara lain untuk saya belajar hal tersebut kecuali ngalamin langsung ketidakadilan yang dirasakan oleh mungkin jutaan warga kita setiap hari. Dan bedakan ngalamin langsung dibandingkan baca di artikel atau di ceritain orang. Kemudian kalau kita rangkai semua peristiwa-peristiwa luar biasa itu, inilah rencana Tuhan Allah yang membuat kita merasa diri kita kecil banget dibandingkan dengan rencana Tuhan yang begitu luar biasa. Siapa yang bisa membayangkan perjalanan saya dari pertama kali dipanggil-panggil oleh Kejaksaan Agung sampai dibui, sampai berkomunikasi, disidang di depan publik, sebaik mungkin, sejujur mungkin dan akhirnya mendapat dukungan publik, dan akhirnya meraih abolisi yang kelihatannya dalam 80 tahun sejarah republik hanya diberikan tujuh atau delapan kali. Saya punya hanya yang ketujuh atau yang kedelapan. Itu rencana Tuhan Allah. Dan enggak pernah kebayang, maka saya sekarang juga sering pakai istilah dari agama Islam yang diajarkan sama sesama tahanan yang beragama Islam, yaitu tawakal. Kita memang harus berikhtiar, harus all out ya, maksimal, tapi begitu saatnya tiba untuk menanti hasil ikhtiar kita memang harus pasrah dan ikhlas kepada yang maha kuasa. Dan percaya deh bahwa yang maha kuasa itu juga maha adil. Semesta itu selalu mencari equilibrium, mencari kebenaran, dan itulah mungkin kalau kita menjelaskan faktor hoki, luck dalam konteks spiritual. Tapi menarik apa yang bisa kita optimalkan dalam karakter dan perilaku kita untuk memaksimalkan faktor hoki, faktor luck, ya kan? Antara lain menurut saya kerendahan hati, karena sering kali kita-kita yang sangat terdidik atau merasa diri kita pintar, merasa bahkan kita lebih tahu daripada Tuhan. Kita ngotot pokoknya rencana saya yang terbaik. Kita harus mencapai target yang saya bikin. Padahal Tuhan punya rencana yang lebih baik, atau bahkan orang lain mungkin punya rencana atau solusi yang lebih baik. Jadi, bisa mengendalikan ego, kerendahan hati, itu satu. Kedua, fleksibel, tidak tidak ngotot, "Pokoknya solusinya harus ini." Bisa aja tiba-tiba ada solusi lain atau faktor lain. Sadar diri, kesadaran kita enggak terjebak dalam ilusi-ilusi atau paradigma kita sendiri, kita benar-benar terbuka terhadap... Kayaknya berapa hari lalu dalam diskusi kita, kita pakai kata "serendipity", itu betul betul istilah keren juga untuk hoki, luck. Saya tuh percaya bahwa sebetulnya 100% dari manusia itu hoki, cuman 80% dari manusia mungkin belum terbuka saat hoki itu terjadi, karena ngotot dengan sebuah paradigma, ngotot dengan sebuah rencana, ada faktor tak terduga muncul dari samping, sebenarnya itu solusi, itu kunci tapi karena kita sok tahu, "Itu bukan solusi yang saya bikin." Jadi diabaikan atau dikesampingkan, padahal itu kuncinya, kan? Jadi, keterbukaan, yang kayaknya memerlukan kerendahan hati bahwa bisa saja solusi terbaik itu hadir bukan dari kita tapi dari yang maha kuasa atau dari orang lain, bahkan dari yang benar-benar tak terduga. Bisa-bisa solusinya dari musuh kita, bisa aja solusinya dari lawan atau musuh atau orang yang tadinya kita berseberangan atau gimana. Jadi, hidup itu penuh dengan ironis. Dan seperti Gita kemarin bilang di Endgame Town Hall, God has a great sense of humor. Jadi luar biasa aspek-aspek kalau sudah kehendak Allah tidak ada manusia yang bisa menggagalkannya. - Tom, gua mau mengucapkan terima kasih dan jangan stop deh untuk terus mengukir perjalanan bangsa dan negara. Izinkan gua menggunakan metafor seni. Tadi kita sempat ngobrol ringan. Sebetulnya patungnya ini sudah ada. Indah sekali. Ini gua menjemput dari teman-teman kreator kemarin, seniman, tapi ini terbungkus oleh casting atau apa. Tugas kita adalah untuk berikhtiar, untuk mengupas. Dan itu menuntut mungkin bukan hanya ikhtiar tapi "smart luck" karena kalau lu ngupasnya dengan cara yang salah, lu enggak "lucky". Keindahan patung itu enggak kelihatan. - Thank you, Git. Dan sebaliknya,. Tolong terus lakukan yang kamu lakukan. Gita juga jadi inspirasi bagi banyak kalangan profesional generasi muda. Dan maaf berulang-ulang saya sampaikan, podcaster, influencer yang menitikberatkan substansi lagi mengubah kultur dan mental kita. Dan itu akar, dan dari situ baru terjadi perubahan politik, dan dari situ baru perubahan strategi ekonomi dan lain-lain. Tapi akarnya memang mental dan kultur kita. Dan itu peranan kita dan teman-teman di sektor podcasting dan influencers. - Siap. Thank you banget, Tom. - Thank you so much. Makasih banget, Git. - Teman-teman itulah Tom Lembong, teman dekat saya. Terima kasih.
Title Analysis
Judul ini tidak mengandung elemen clickbait yang mencolok. Tidak ada penggunaan huruf kapital semua, tanda baca berlebihan, atau bahasa sensasional. Judulnya cukup informatif dan langsung, meskipun bisa dianggap menarik perhatian karena menyebut nama Tom Lembong, yang dikenal di kalangan publik.
Judul sangat sesuai dengan isi konten video. Diskusi dalam video berfokus pada etika politik, tata negara, dan filsafat ekonomi, yang semuanya diwakili dengan baik oleh judul. Hanya sedikit aspek yang tidak sepenuhnya terwakili, seperti pengalaman pribadi Tom Lembong yang lebih mendalam.
Content Efficiency
Transkrip ini memiliki banyak informasi berharga yang disampaikan oleh Tom Lembong dan Gita Wirjawan, dengan banyak pengalaman pribadi dan wawasan tentang pendidikan, ambisi, dan imajinasi. Namun, terdapat beberapa pengulangan dan pernyataan yang tidak terlalu relevan yang mengurangi kepadatan informasi. Meskipun demikian, sebagian besar konten tetap memberikan nilai yang signifikan.
Waktu yang digunakan dalam video ini cukup efisien, meskipun ada beberapa bagian yang bisa dipersingkat untuk meningkatkan fokus pada inti pembicaraan. Beberapa elaborasi terlalu panjang dan bisa disampaikan dengan lebih ringkas. Namun, secara keseluruhan, diskusi tetap menarik dan informatif.
Improvement Suggestions
Untuk meningkatkan kepadatan dan efisiensi, disarankan untuk mengurangi pengulangan dan memperpendek bagian yang terlalu panjang. Memfokuskan pada poin-poin kunci dan menghindari penyimpangan dari topik utama akan membantu menjaga perhatian audiens. Selain itu, penggunaan ringkasan di akhir setiap segmen bisa membantu memperjelas informasi yang disampaikan.
Content Level & Clarity
Konten ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena membahas konsep-konsep kompleks dalam etika politik, ekonomi, dan pendidikan. Diskusi tentang pengalaman pribadi dan pandangan filosofis Tom Lembong memerlukan pemahaman yang mendalam tentang konteks sosial dan politik Indonesia, serta pengetahuan dasar tentang sistem pendidikan dan ekonomi. Oleh karena itu, skor 7 diberikan, menunjukkan bahwa pendengar perlu memiliki latar belakang yang cukup untuk mengikuti diskusi ini.
Kejelasan pengajaran dalam konten ini cukup baik, dengan alur yang logis dan terstruktur. Tom Lembong mampu menjelaskan ide-ide kompleks dengan cara yang dapat dipahami, meskipun terkadang ada istilah teknis yang mungkin membingungkan bagi pendengar awam. Diskusi mengalir dengan baik, dan ada interaksi yang dinamis antara pembicara, yang membantu menjaga perhatian audiens. Namun, beberapa bagian dapat lebih dipadatkan untuk meningkatkan fokus.
Prerequisites
Pendengar sebaiknya memiliki pemahaman dasar tentang etika, politik, dan ekonomi, serta pengetahuan tentang sistem pendidikan di Indonesia.
Suggestions to Improve Clarity
Untuk meningkatkan kejelasan dan struktur, disarankan untuk menyertakan ringkasan di akhir setiap segmen diskusi. Selain itu, penggunaan istilah teknis harus dijelaskan lebih lanjut agar pendengar yang tidak berpengalaman dapat mengikuti dengan lebih baik. Menyediakan visualisasi atau grafik untuk mendukung argumen yang disampaikan juga dapat membantu dalam memahami konsep yang lebih rumit.
Educational Value
Konten video ini memiliki nilai edukasi yang sangat tinggi, terutama dalam konteks pendidikan, etika politik, dan filosofi ekonomi. Diskusi antara Gita Wirjawan dan Tom Lembong mencakup pengalaman pribadi, perjalanan pendidikan, dan pandangan mendalam tentang pentingnya imajinasi, ambisi, dan hoki dalam mencapai kesuksesan. Mereka juga membahas peran orang tua dalam membentuk karakter dan ambisi anak-anak. Dengan mengaitkan pengalaman pribadi dengan isu-isu sosial dan ekonomi yang lebih luas, konten ini memberikan wawasan yang mendalam dan relevan. Misalnya, penjelasan tentang pentingnya pendidikan guru dan investasi dalam infrastruktur lunak menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang sistem pendidikan. Konten ini juga mendorong pemirsa untuk berpikir kritis dan reflektif, sehingga meningkatkan potensi retensi pengetahuan dan aplikasi praktis di kehidupan sehari-hari.
Target Audience
Content Type Analysis
Content Type
Format Improvement Suggestions
- Tambahkan visual aids untuk mendukung penjelasan
- Sertakan ringkasan di akhir setiap segmen
- Gunakan subtitle untuk meningkatkan pemahaman
- Pertimbangkan untuk menambahkan grafik atau diagram
- Buat sesi tanya jawab interaktif dengan audiens
Language & Readability
Original Language
Bahasa IndonesiaModerate readability. May contain some technical terms or complex sentences.
Content Longevity
Timeless Factors
- Tema universal seperti pendidikan dan pengembangan diri
- Prinsip-prinsip dasar tentang ambisi dan imajinasi
- Diskusi tentang etika dan tanggung jawab sosial
- Pentingnya investasi dalam pendidikan dan infrastruktur
- Refleksi tentang pengalaman hidup yang mendalam dan spiritualitas
Occasional updates recommended to maintain relevance.
Update Suggestions
- Tambahkan konteks tentang tren pendidikan dan kebijakan terbaru
- Perbarui statistik terkait pendidikan dan investasi di Indonesia
- Referensikan contoh kontemporer dari tokoh atau kebijakan yang relevan
- Sertakan perkembangan terbaru dalam teknologi dan dampaknya terhadap pendidikan
- Diskusikan perubahan dalam dinamika sosial dan politik yang mungkin mempengaruhi tema yang dibahas